Jakarta - Angkutan umum dianggap sebagai solusi kunci dari persoalan kemacetan yang tak kunjung selesai di Jakarta. Namun sistem angkutan umum sendiri belum tertata dengan baik.
"Sekarang kan yang terjadi bus reguler dan bus Transjakarta saingan. Kalau
mereka saingan, mereka memakan satu sama lain itu akan mati," ujar Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia, Danang Parikesit, ketika dihubungi wartawan, Selasa (2/11/2010).
Untuk itu Danang berharap terdapat sistem transportasi yang jelas di Jakarta khususnya pada sistem angkutan umum. Menurutnya, carut marut transportasi di Jakarta membuat laju pergerakan kendaraan di kota ini lebih lambat dari kecepatan ideal.
"Sekarang ini kecepatan laju kendaraan di Jakarta kan 15 km/jam terutama dalam waktu puncak (peak hours). Ini sangat tidak kompetitif," katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Danang, sangat berbeda di Bangkok, Thailand yang kecepatan kendaraan di jalan raya sudah mencapai 18 km/jam, atau di Tokyo, Jepang yang sudah mencapai 25 km/jam.
Agar kondisi ideal dapat tercapai, maka penataan terhadap sistem transportasi harus dilakukan. Salah satu caranya adalah dengan menambah angkutan umum reguler, yang trayeknya tidak berbenturan dengan Bus Transjakarta.
"Trayek angkutan umum (bus reguler) harus ditambah, cuma diatur. Nanti bus-bus ini (bus reguler) disebar ke pelosok-pelosok," sarannya.
Sementara itu, Gubernur DKI Fauzi Bowo mengatakan pihaknya tidak akan melakukan penutupan trayek angkutan. Pemprov DKI akan memperketat pengawasan terhadap bus-bus kota yang kondisi fisiknya sudah tidak layak jalan.
"Memang banyak yang sudah berusia tua. Fisiknya sudah tak layak jalan
lagi, maka kita akan memperketat disitu," ujar pria yang kerap disapa Foke itu.



0 comments:
Post a Comment